imgimg

Kalbe Junior Scientist Award hadir kembali dengan topik KJSA Goes Digital 2019, yaitu kompetisi sains SD-SMP yang mengusung tema teknologi digital 4.0. Antusiasme pun nampak dari jumlah submit karya sains yang berjumlah 424 karya dari seluruh indonesia itu.

“Saya terkagum-kagum ada anak SD dan SMP bisa berkarya begini. Sayang di kurikulum tidak ada padahal ada kemauan. Dinas Pendidikan harusnya mendukung.” Celetuk Onno W. Purbo, selaku juri Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) membuka diskusi pada pagi itu (18/09/2019).

Ya, Onno bersama 16 orang lainnya yang terdiri dari juri dan mentor berkumpul membahas penjurian KJSA 2019. Ada  424 karya sains yang dikirim oleh anak SD-SMP seluruh Indonesia. 

Namun berbeda dari KJSA tahun sebelumnya, KJSA tahun ini mengusung tema digital. Apalagi KJSA Goes Digital di tahun ini  juga menyediakan 8 mentor untuk menyempurnakan karya sains peserta, konsep yang tidak ada di kompetisi KJSA sebelumnya.

Terkait pendapat tentang sains anak, Onno W. Purbo tidak sendirian. Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rohman, juga sependapat. Diwawancarai pagi itu, ia yang mengenakan baju batik coklat muda dengan jaket hitam berkata, “Anak-anak jaman sekarang hebat. Saya saja tidak kepikiran ide-ide mereka, oh ternyata bisa begini ya, bisa begitu. Bisa buat game, macam-macam.”

Prof. Dr. Nurul menambahkan jika KJSA bisa menjadi wadah untuk ide-ide yang bisa diaplikasikan di dunia nyata. Apalagi teknologi digital seperti gadget sudah dekat dengan anak. Menurutnya, KJSA Goes Digital diadakan supaya anak bisa berkreasi di dunia yang dekat dengan mereka. “Kendalanya ya mungkin kalau pembimbingnya di sana justru tidak fasih teknologi sedangkan si anak sudah pandai. Nah itu kan harusnya diseimbangkan. Akan lebih mudah kalau pembimbingnya ya millenial karena anak-anak ini kan sudah masuk generasi net.” Tambahnya.  PDAT/Bernetta Nindya